Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi
Serat Centhini ditulis pada abad XIX oleh tiga orang abdi dalem Kasunanan Surakarta, yaitu: Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno dan Raden Ngabehi Sastradipura (Kyai Haji Ahmad Ilhar). Penulisan itu atas perintah putra mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III yang kemudian menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V (1820–1823).
Serat Centhini menceritakan perjalanan hidup Syaikh Among Raga, salah seorang keturunan Sunan Giri yang melarikan diri setelah Keraton Giri diserang dan diduduki oleh tentara Sultan Agung yang dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya. Syaikh Among Raga bersembunyi dan tinggal di satu pesantren ke pesantren lain sebagai santri kelana. Di situlah Syaikh Among Raga banyak mendapatkan pengajaran agama Islam, khususnya tentang kitab-kitab klasik (kitab kuning). Serat Centhini menyebutkan tidak kurang dari 20 nama kitab klasik, yang hingga kini mayoritasnya masih dikenal dan dipakai sebagai pegangan di pesantren.[1]
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Mengenal Serat Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi
Centhini adalah nama kumpulan serat-serat atau yang ditulis oleh sebuah tim, atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III. Penulisan kitab Centhini dimulai pada hari Sabtu Pahing 26 Sura 1742 Tahun Jawa atau 1814 Tahun Masehi. Apa saja isi serat tersebut?
Tim yang ditugaskan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III, diantaranya Raden Ngabehi Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara, red), abdidalem bupati pujangga kadipaten, Raden Ngabehi Sastradipura, abdidalem Kliwon carik kadipaten, dan Pangeran Jungut Mandurareja, pradikan krajan Wangga, Klaten Surakarta.
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi
TEMPO Interaktif, Jakarta: Seporsi tongseng di atas meja itu terlihat aneh. Di antara potongan-potongan daging dalam genangan kuah kuning kecokelatan itu menyembul selarik ruas-ruas tulang berbalut daging sepanjang sejengkal dengan satu ujungnya lancip. Ya, benda aneh itu memang sepotong ekor tupai. Nama masakannya juga cukup aneh: Tongseng Bajing Mlumpat alias Tongseng Tupai Melompat. Jangan merasa bergidik dulu. Meski aneh, menu masakan ini bersumber dari Serat Centhini, sebuah naskah kuno yang sangat masyhur.
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Berita Serat Centhini, Resep Masakan Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi
Di tengah hiruk pikuk kemunculan berbagai jenis masakan atau makanan modern, kuliner “tempo doeloe” yang dikenal dengan sebutan jajanan pasar ternyata tetap saja eksis. Terutama di kalangan masyarakat Jawa, jajanan pasar masih dilestarikan, diuri-uri. Lihat saja upacara panen raya, atau pesta pernikahan, pindah rumah dll, jajanan pasar tidak ketinggalan dijadikan sebagai bagian dari uba rampe ritual.
Salah satu informasi mengenai kuliner Jawa tempo dulu tercatat pada Serat Centhini periode 1814-1823. Serat Centhini disusun oleh tim penulis yang dipimpin putra mahkota yang belakangan menjadi raja dan bergelar Paku Buwana V. Anggota tim terdiri dari Raden Ngabei Ronggowarsito, Raden Ngabei Yasadipura II dan Raden Ngabei Sastrodipuro.
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Berita Serat Centhini, Resep Masakan Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 17 November 2009 by Jayeng Resmi
Galeri Salihara akan mengadakan Pameran Fotografi Fendi Siregar pada tanggal 19-30 Nopember 2009. Pameran ini menampilkan sekitar 40 dari 11 ribuan foto karya Fendi Siregar, yang dikerjakannya selama tiga tahun. Dalam bentang waktu yang cukup panjang itu ia berupaya memberi tafsir atas Serat Centhini, naskah klasik yang hidup di kalangan masyarakat Jawa.
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Berita Serat Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 17 November 2009 by Jayeng Resmi
Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.
Baca selebihnya »
Filed under: Buku Serat Centhini, Resensi Serat Centhini | Komentar Dimatikan
Posted on 13 November 2009 by Jayeng Resmi
Centhini begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjungannya sehingga akhirnya dia memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari Suluk, pulang ke zatnya yang sejati, ilahi.
Adalah seorang perempuan bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menguak satu lembar sastra Jawa yang tersembunyi dan hampir terlupakan ke dalam kancah dunia sastra Indonesia yang sedang sumringah dengan terbitnya berbagai jenis buku dan tulisan.
Baca selebihnya »
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Buku Serat Centhini, Elizabeth Inandiak, Resensi Serat Centhini | Komentar Dimatikan