Centhini Sebuah Diary Novel

Sunardian WirodonoSRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Serat Centhini , mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.

Baca lebih lanjut

Iklan

Centhini – 40 Malam Mengintip Sang Pengantin

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang Pengantin 3Sebuah novel berbahasa Indonesia, digubah oleh Sunardian Wirodono, berdasar karya klasik sastra Jawa, “Serat Centhini ” karya Susuhunan Pakubuwana IV Kraton Surakarta Hadiningrat (bertahta pada tahun 1820-1823), yang ditulis pertama kali pada tahun 1815.

Karya gubahan setebal 510 halaman ini, diterbitkan pertama kali oleh Diva Press, Yogyakarta, pada Mei 2009. Merupakan upaya pertama kali untuk secara lengkap menggubah karya serat tersebut dalam bentuk novel dan dengan bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut