Centhini

Goenawan Muhammad 3aAPA gerangan yang didengarkan Centhini selama 40 malam? Abdi yang setia itu selalu berada di dekat pelaminan majikannya, Tambangraras. Ia bersimpuh diam di dekat kamar bahkan ketika Tambang-raras sedang bersama suaminya, Amongraga. Di situlah Si Centhini, gadis yang penuh hasrat belajar itu, meny-i-mak apa saja yang diucapkan ketika pasangan itu bercengkerama dan bersetubuh.

Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: ”Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya.”

Baca lebih lanjut

Iklan

Cebolang

Goenawan Muhammad 3aTeater itu bernama Slamet Gundono . Dengan tubuh 300 kilogram lebih ia tetap bisa bergerak ritmis seperti penari. Suaranya mengalun, bisa gagah bisa sayu, terkadang dramatik terkadang kocak, sebagaimana laiknya seorang dalang. Tapi ia lebih dari itu. Di pentas itu ia juga seorang aktor penuh. Dialog diucapkannya dengan diksi yang menggugah dan pause yang pas. Ia bisa membawakan lagu, ia bisa menggubah lagu dengan cepat, seraya memelesetkan melodi, tapi pada saatnya, ekspresinya bisa tangis.

Gundono adalah gunungan dalam pertunjukan wayang kulit yang tanpa jejer. Ia pusat.Tapi ia bergerak dari pelbagai posisi, dan dengan asyik berpindah dari idiom seni pertunjukan yang satu ke idiom yang lain.

Baca lebih lanjut