Menu Tongseng Tupai dari Serat Centhini

Menu Tongseng Tupai dari Serat Centhini 1TEMPO Interaktif, Jakarta: Seporsi tongseng di atas meja itu terlihat aneh. Di antara potongan-potongan daging dalam genangan kuah kuning kecokelatan itu menyembul selarik ruas-ruas tulang berbalut daging sepanjang sejengkal dengan satu ujungnya lancip. Ya, benda aneh itu memang sepotong ekor tupai. Nama masakannya juga cukup aneh: Tongseng Bajing Mlumpat alias Tongseng Tupai Melompat. Jangan merasa bergidik dulu. Meski aneh, menu masakan ini bersumber dari Serat Centhini, sebuah naskah kuno yang sangat masyhur.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kuliner Tempo Dulu Versi Serat Centhini

Berbagai-macam-kuliner-masyarakat-Jawa-tempo-duluDi tengah hiruk pikuk kemunculan berbagai jenis masakan atau makanan modern, kuliner “tempo doeloe” yang dikenal dengan sebutan jajanan pasar ternyata tetap saja eksis. Terutama di kalangan masyarakat Jawa, jajanan pasar masih dilestarikan, diuri-uri. Lihat saja upacara panen raya, atau pesta pernikahan, pindah rumah dll, jajanan pasar tidak ketinggalan dijadikan sebagai bagian dari uba rampe ritual.

Salah satu informasi mengenai kuliner Jawa tempo dulu tercatat pada Serat Centhini periode 1814-1823. Serat Centhini disusun oleh tim penulis yang dipimpin putra mahkota yang belakangan menjadi raja dan bergelar Paku Buwana V. Anggota tim terdiri dari Raden Ngabei Ronggowarsito, Raden Ngabei Yasadipura II dan Raden Ngabei Sastrodipuro.

Baca lebih lanjut

Sisi Lain Serat Centhini: Sebuah Tafsir Visual

Sisi Lain Serat Centhini - Sebuah Tafsir VisualGaleri Salihara akan mengadakan Pameran Fotografi Fendi Siregar pada tanggal 19-30 Nopember 2009. Pameran ini menampilkan sekitar 40 dari 11 ribuan foto karya Fendi Siregar, yang dikerjakannya selama tiga tahun. Dalam bentang waktu yang cukup panjang itu ia berupaya memberi tafsir atas Serat Centhini, naskah klasik yang hidup di kalangan masyarakat Jawa.

Baca lebih lanjut

Serat Centhini, Karya Sastra Besar di Dunia

centhini elizabethSerat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 – 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa.

Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah saya tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,” kata Elizabeth D. Inandiak di Yogyakarta (22/07).

Baca lebih lanjut

Serat “Centhini” Porno?

berita-serat-centhini-tambangraras-amongragaRUU APP sekonyong- konyong muncul lagi dengan nama baru, RUU Pornografi atau RUU Porno. Disebut ”sekonyong-konyong” karena anggota parlemen RI terhormat telah meloloskan draf terbaru tanpa pemberitaan luas kepada masyarakat.

Perubahan nyata dari RUU Porno ini adalah penciutan menjadi 52 pasal, dari sebelumnya 93 pasal. Napasnya masih sama, yakni pengaturan moral seseorang. Pendefinisian pornografi pun masih asal-asalan dan bisa-bisa serat Centhini , sastra kuno Jawa, kena getahnya.

Baca lebih lanjut

UGM Launching Buku Saduran Serat Centhini Jilid V-XXII

Berita Serat CenthiniFakultas Ilmu Budaya UGM meluncurkan buku saduran Serat Centhini jilid V-XXII. Peluncuran berlangsung di Auditorium Poerbatjaraka FIB UGM dihadiri Mendiknas RI Prof Dr Bambang Sudibyo MBA, Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi MEng PhD, Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Prof Dr Retno Sunarminingsih Sudibyo MSc Apt, Dekan FIB Dr Ida Rochani Adi SU, dosen dan para mahasiswa.

Mendiknas menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan acara ini. Katanya, peluncuran buku saduran Serat Centhini jilid V-XXII merupakan sebuah karya sastra terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.

“Ini karya sastra yang luar biasa. Sadurannya saja sebuah karya yang luar biasa apalagi karya aslinya,” ujarnya, Senin (22/12).

Baca lebih lanjut

Pentas Cebolang Minggat

Pentas Cebolang MinggatTEMPO Interaktif, Jakarta: Balon bertebaran di panggung Teater Salihara, Jakarta. Bukan balon biasa, tapi kondom-kondom yang ditiup. Di dekat kaki dalang Slamet Gundono ada nasi tumpeng berhias kondom-kondom, yang juga membungkus berbagai elemen pertunjukan. Komunitas Wayang Suket, pada Jumat-Sabtu malam lalu, mempersembahkan Wayang Kondo M. Cebolang Minggat .

Kisah Cebolang Minggat adalah salah satu bagian dari Serat Centhini . Naskah persembahan di Salihara itu diadaptasi oleh ahli sastra Prancis yang menekuni sastra Jawa, Elizabeth Inandiak. Lakon itu bercerita tentang Cebolang, remaja yang mengembara untuk menemukan jati diri.

Baca lebih lanjut