Serat Centhini, Sinkretisme Islam, Dan Dunia Orang Jawa

ulil-abshar-abdalaLAGI-lagi, kita membicarakan sesuatu yang berkenaan dengan kebudayaan Jawa. Dalam situasi di mana Jawa sekarang dipersoalkan oleh semua orang, pembicaraan semacam ini boleh jadi dianggap mengafirmasi apa yang sering dianggap sebagai “dominasi” kebudayaan Jawa di Indonesia. Akan tetapi, kebudayaan Jawa memang menyuguhkan ‘magic’ yang tak habis-habisnya. Studi mengenai Jawa tak pernah membosankan, karena terdapat segi-segi yang terus memikat untuk dilihat. Salah satu tema yang menarik adalah hubungan antara kejawaan dan keislaman yang melahirkam sejumlah teori di tangan para ahli. Persoalan pokok yang tampil di sini adalah berkenaan dengan kedudukan Islam sebagai agama orang Jawa: apakah Islam di situ masih tegak sebagai agama yang “pristin”, tidak terpengaruh oleh unsur-unsur lokal, atau justru mengalami “distorsi” ketika mulai bertemu dengan jenius setempat?

Baca lebih lanjut

Iklan

Mengintip Seksualitas Serat Centhini

seksualitas-candi-borobudurTak ada yang bisa memungkiri, urusan seks selalu saja menarik. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu se-RT. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Baca lebih lanjut

Centhini

Goenawan Muhammad 3aAPA gerangan yang didengarkan Centhini selama 40 malam? Abdi yang setia itu selalu berada di dekat pelaminan majikannya, Tambangraras. Ia bersimpuh diam di dekat kamar bahkan ketika Tambang-raras sedang bersama suaminya, Amongraga. Di situlah Si Centhini, gadis yang penuh hasrat belajar itu, meny-i-mak apa saja yang diucapkan ketika pasangan itu bercengkerama dan bersetubuh.

Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: ”Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya.”

Baca lebih lanjut

Cebolang

Goenawan Muhammad 3aTeater itu bernama Slamet Gundono . Dengan tubuh 300 kilogram lebih ia tetap bisa bergerak ritmis seperti penari. Suaranya mengalun, bisa gagah bisa sayu, terkadang dramatik terkadang kocak, sebagaimana laiknya seorang dalang. Tapi ia lebih dari itu. Di pentas itu ia juga seorang aktor penuh. Dialog diucapkannya dengan diksi yang menggugah dan pause yang pas. Ia bisa membawakan lagu, ia bisa menggubah lagu dengan cepat, seraya memelesetkan melodi, tapi pada saatnya, ekspresinya bisa tangis.

Gundono adalah gunungan dalam pertunjukan wayang kulit yang tanpa jejer. Ia pusat.Tapi ia bergerak dari pelbagai posisi, dan dengan asyik berpindah dari idiom seni pertunjukan yang satu ke idiom yang lain.

Baca lebih lanjut

Catatan Pertama

Les chants de l'île à dormir debout , Le livre de CenthiniWikipedia menulis : Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.[*]

Baca lebih lanjut