Ringkasan Serat Centhini – Pendahuluan

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini adalah buku kesusastraan Jawa yang aslinya ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat

(Note: tembang Macapat adalah sejumlah tembang Jawa dengan irama tertentu, jumlah suku kata tertentu, akhir kata tertentu dalam satu bait tembang dan sangat popular untuk refleksi peristiwa tertentu menggunakan tembang yang pas dengan suasana yang ingin ditimbulkan, sejumlah nama tembang Macapat: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Pocung, Megatruh, Jurumedung, Wirangrong, Balabak, Girisa) dan selesai ditulis pada tahun tahun 1814.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 01

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga 1. Badad Giri (1487 – 1636)

Seh Wali Lanang dari Jeddah tiba di pelabuhan Gresik pada masa kerajaan Majapahit, menikahdengan Putri dari kerajaan Belambangan yang berhasil disembuhkan ketika menderita sakit.

Karena Raja Belambangan tidak mau masuk Islam, Seh Wali Lanang meninggalkan Belambangan pergi ke Malaka. Istrinya sudah mengandung kemudian melahirkan bayi laki-laki. Bayi dimasukkan ke-kendaga dibuang ke laut, ditemukan Nyi Semboja yang sedang berlayar, diangkat anak diberi nama Santri Giri.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Serat Centhini Jilid 02

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-2 berisi 87 pupuh dari pupuh 88 s/d 174, berisi perjalanan Mas Cebolang (diikuti santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti) anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Ahkadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.

Rute perjalanan: meninggalkan Sokayasa, sampai di makam Dhukuh ketemu Ki Demang Srana lalu diantar ke makam Seh Jambukarang di gunung Lawet, pancuran Surawana yang bermata air di Muncar ketemu Ki Dati, bendungan Pancasan di Banyumas, naik rakit sungai Serayu, berhenti di Arjabinangun ketemu Ajar Naraddhi, lihat gua Limusbuntu, lihat gua Selaphetak yang berbentuk pendapa rumah, sampai di Segara Anakan, naik perahu menuju Karangbolong, di Ujung Alang gunung Ciwiring bisa kelihatan pulau Bandhung tempat bunga Wijayakusuma yang dijaga burung Bayan, di Jumprit lihat mata air sungai Praga di gunung Sindara ketemu Ki Gupita,

Baca lebih lanjut

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 03

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-3 berisi 82 pupuh dari pupuh 175 s/d 256, masih meneruskan perjalanan Mas Cebolang yang diikuti empat santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti. Mas Cebolang adalah anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Akadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 04

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-4 berisi 65 pupuh dari pupuh 257 s/d 321, meneruskan perjalanan Mas Cebolang dari Laweyan, Surakarta menuju ke tenggara dan berakhir di Wirasaba – Jawatimur.

Rute perjalanan: masih di Mesjid Laweyan – Surakarta Ki Sali melanjutkan bicara tentang ramalan Jayabaya, Ki Atyanta berbicara tentang 40 macam tanda-tanda kiamat yang berasal dari Hadits dan cerita tentang Seh Markaban dari Mesir, desa Majasta ketemu Ki Jayamilasa jurukunci makam Jaka Bodho putra raja Majapahit, ditepi sungai Dengkeng diceritakan tentang riwayat Jaka Tingkir,

Baca lebih lanjut

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 05

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-5 berisi 86 pupuh dari pupuh 321 (mulai tembang 40) s/d 356, perjalanan pulang Mas Cebolang dari Wirasaba ke Sokayasa, Banyumas, perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari, Rangcangkapti meninggalkan Sokayasa menuju Wanataka dan perjalanan Jayengresmi meninggalkan Gunung Karang, Pandeglang, Banten untuk mencari adik-adiknya sampai ke Wanamarta diselatan Gunung Giri, Jawa Timur.

Rute perjalanan pulang Mas Cebolang: sebagai sinden kentrung bermain dikediaman adipati Wirasaba; lari dari kadipaten Wirasaba karena ketahuan Mas Cebolang selingkuh dengan para selir adipati Wirasaba; naik ke gunung Semeru ingin ketemu buyut Danardana tapi tidak ketemu; pergi ke gua Sigala setelah bertapa selama 7 hari baru bisa ketemu buyut Danardana disuruh pulang ke Sokayasa.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 06

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-6 berisi 15 pupuh dari pupuh 357 s/d 372, berlainan dengan jilid-jilid sebelumnya pada jilid ini bukan berisi cerita perjalanan tapi lebih fokus pada cerita pernikahan antara Jayengresmi yang sudah berganti nama Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras anak dari Ki Bayi Panurta dari Wanamarta, Mojokerta.

Pada jilid ini untuk pertama kali disebut nama Centhini yang adalah rewang (pembantu) Niken Tambangraras. Serat Centhini ini pada awalnya bernama Suluk Tambangraras yang kemudian diganti dengan nama Serat Centhini, sebagai penghargaan terhadap kesetiaan Centhini yang selalu mendampingi Niken Tambangraras.

Baca lebih lanjut