Review Serat Centhini – Jilid 07

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Pada Serat Centhini jilid-7, awalnya masih melanjutkan sedikit tentang tradisi budaya pesantren, sedangkan sisanya perihal pola pendalaman ilmu agama atau spiritual yang umum berlaku pada saat itu.

Ada beberapa kontradiksi pada Serat Centini jilid-7 ini, dikarenakan sejak abad ke-16 ketika cerita ini berlangsung telah terjadi pengaruh budaya luar lainnya, yaitu:

1. Pola penyiaran agama Islam yang datang kemudian lebih menekankan kepada syariat atau syarat-syarat menjalankan kewajiban agama dimana tidak terhindarkan adanya pengaruh berbagai mazab-mazab dalam Islam. Sedangkan pola yang diajarkan oleh para walisanga adalah pengetahuan spiritual yang menekankan ilmu tasauf yaitu hakekat dan makrifat yang tidak jauh berbeda dengan pola pendalaman sprirituil masyarakat Jawa pada saat itu yang sudah dijalani berabad-abad lamanya dengan satu dan lain cara. Oleh karena itu masyarakat Jawa bisa menerima agama Islam pada saat itu karena pendekatan yang tepat dari wali sanga.

2. Pengaruh budaya Barat telah merubah paradigma pengertian tentang ilmu yang sama sekali berbeda dengan pengertian ilmu yang ada di budaya Jawa pada abad ke-16. Ilmu dalam budaya Jawa adalah pendalaman kehidupan spiritual, sedangkan di budaya Barat ilmu adalah pengetahuan alam dalam rangka explorasi alam untuk kepentingan duniawi. Bahkan kita bisa pertanyakan apakah ada pendalaman spiritual dalam budaya Barat?

Apakah pengaruh yang terjadi adalah suatu kemunduran atau suatu kemajuan? Kita serahkan saja penilaian pada diri kita masing-masing dengan melihat kecenderungan saat ini bahwa syariat agama hanya dijalankan sebagai rutinitas ritual tanpa pendalaman spiritual yang menyebabkan kemunduran etika dan moral dalam masyarakat.

Kontradiksi yang terdapat dalam Serat Centhini jilid-7 ini adalah:

1. Seh Amongraga meninggalkan Niken Tambangraras setelah menikah selama 40 hari. Adalah perlambang bahwa pendalaman sprituil lebih penting dari segalanya termasuk dalam membina keluarga. Sangat kontradiktif dengan nilai-nilai yang berlaku saat ini.

2. Seh Amongraga sudah berguru di padepokan (pesantren) tiga kali, dengan ayahnya Sunan Giri, dengan Kyai Ageng Karang di Banten, dengan Ki Bayi Panurta di Wanamarta. Tapi ilmu yang didapat dianggap tidak cukup untuk memahami keagungan Allah SWT oleh karena itu diperlukan laku (tarekat atau tirakat) dengan cara lelanabrata ketempat-tempat sepi dan angker dalam rangka pemahaman segi-segi yang ajaib (gaib) tentang kehidupan termasuk keberadaan mahluk halus. Ini adalah pola pemahaman sprirituil di budaya Jawa yang berumur sangat tua. Bisa diartikan sebagai bentuk sinkretisasi agama Islam, tapi juga bisa diartikan bahwa pada tataran hakekat dan makrifat agama apapun punya tujuan yang sama yaitu mengagungkan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Ini yang dijadikan dasar adanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa di ideologi Pancasila).

3. Pola tersebut diatas kontradiktif dengan pola yang berlaku saat ini dimana pelajaran di pesantren adalah besifat final. Kalau sudah tamat, yang harus dilakukan adalah berdakwah dengan apa yang telah dipelajari di pesantren tersebut baik dengan cara dakwah berkeliling ataupun dengan cara mendirikan pesantrennya sendiri. Sudah sangat jarang santri yang melakukan lelanabrata untuk pemahaman sprituil yang lebih mendalam dalam menyelami keagungan Allah SWT. Kalau dilakukan malahan dianggap menyimpang dari ajaran agama yang sudah baku. Sebagai hasilnya adalah masyarakat Indonesia saat ini yang mayoritas beragama Islam, tanpa disertai perilaku etika dan moral yang terpuji. Bukan agamanya yang salah tapi pola pemahamannya yang mengalami banyak distorsi.

Sedangkan cerita/legenda adat istiadat dan ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-7 adalah:

Cerita/Legenda: asal usul gua Sraboja yang dulunya adalah istana kerajaan.

Adat Istiadat: pembicaraan tentang Wuku; hari baik dan hari naas; tatacara menempati rumah baru; perihal burung dara (merpati); penolak hama. Kesemuanya saat ada di buku-buku Primbon.

Pengetahuan Spirituil/Agama sangat fokus kepada ilmu tasauf, diantaranya adalah:

1. Hakekat doa puji-pujian (dalam tembang Dandanggula):

Wruhana sajatining puji, dudu lapal kang muni ing lesan, swara lawan kumandange, pan unen-unen dudu, dene puji sajatine, pan iya karepira kang suci sumunu, pangidhangsih karsa juga, ingkang datan kajeg-kajeg iku jayi, yen kajeg iku aral.

Artinya: Bukan sekedar keindahan kata-kata yang diucapkan, hakekatnya adalah keinginan dan kehendak hati yang suci yang harus dilakukan terus menerus tanpa henti.

2. Riba: riba badan: meniru perbuatan orang kapir, riba ucapan: banyak melakukan hal-hal yang haram dan makruh, riba hati: berbohong dan tidak menepati janji.

3. Pengamalan ilmu tasauf:

a. Syariat – pengamalan keimanan dengan cara mengabdi pada Allah SWT.

b. Tarekat – pengamalan keimanan dengan cara memuliakan Allah SWT.

c. Hakekat – pengamalan keimanan dengan cara pemusatan pada Allah SWT.

d. Makrifat – pengamalan keimanan dengan cara pemahaman keajaiban Allah SWT.

4. Daim (kekekalan, selalu) sikap terhadap Allah SWT: fardlu daim – selalu ingat; niat daim – selalu mengasihi; sahadat daim – selalu mengagungkan; ilmu daim – selalu memaklumi, sholat daim – selalu mendekat, makrifat daim – selalu mendengarkan, taukhid daim – selalu percaya, iman daim – selalu menghadap, junun daim – selalu memuliakan, sekarat daim – selalu menerima apapun keadaannya, mati daim – selalu mensyukuri nikmat.

5. Rukun Islam: sahadat, sholat, zakat, puasa, haji.

6. Kewajiban dunia: berbuat baik bagi sesamanya, menyempurnakan mayat, menikahkan anak perempuan, menghukum kesalahan, mengembalikan hutang. Kewajiban akhirat: mempelajari ilmu syariat-tarekat-hakekat-makrifat, sholat lima waktu, memandikan dan menyalatkan mayat, sabar dan tawakal, tenggang rasa.

7. Empat hal yang merusak kesempurnaan hidup: kibir (sombong), tidak percaya dalil atau berbantahan (tentang hukum agama), membuka rahasia (tidak bisa dipercaya), berbohong (tidak mengatakan yang sebenarnya).

Pengarang : KGPA Anom Amengkunegara III.
Sumber: id.shvoong.com.

Pranala:

Iklan
%d blogger menyukai ini: