Ringkasan Serat Centhini – Pendahuluan

Serat Centhini adalah buku kesusastraan Jawa yang aslinya ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat (Note: tembang Macapat adalah sejumlah tembang Jawa dengan irama tertentu, jumlah suku kata tertentu, akhir kata tertentu dalam satu bait tembang dan sangat popular untuk refleksi peristiwa tertentu menggunakan tembang yang pas dengan suasana yang ingin ditimbulkan, [...]

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 01

1. Badad Giri (1487 – 1636) Seh Wali Lanang dari Jeddah tiba di pelabuhan Gresik pada masa kerajaan Majapahit, menikahdengan Putri dari kerajaan Belambangan yang berhasil disembuhkan ketika menderita sakit. Karena Raja Belambangan tidak mau masuk Islam, Seh Wali Lanang meninggalkan Belambangan pergi ke Malaka. Istrinya sudah mengandung kemudian melahirkan bayi laki-laki. Bayi dimasukkan ke-kendaga [...]

Ringkasan Serat Centhini Jilid 02

Serat Centhini Jilid-2 berisi 87 pupuh dari pupuh 88 s/d 174, berisi perjalanan Mas Cebolang (diikuti santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti) anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Ahkadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti. Rute perjalanan: meninggalkan Sokayasa, sampai di makam Dhukuh ketemu Ki Demang Srana lalu diantar ke makam [...]

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 03

Serat Centhini Jilid-3 berisi 82 pupuh dari pupuh 175 s/d 256, masih meneruskan perjalanan Mas Cebolang yang diikuti empat santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti. Mas Cebolang adalah anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Akadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 04

Serat Centhini Jilid-4 berisi 65 pupuh dari pupuh 257 s/d 321, meneruskan perjalanan Mas Cebolang dari Laweyan, Surakarta menuju ke tenggara dan berakhir di Wirasaba – Jawatimur. Rute perjalanan: masih di Mesjid Laweyan – Surakarta Ki Sali melanjutkan bicara tentang ramalan Jayabaya, Ki Atyanta berbicara tentang 40 macam tanda-tanda kiamat yang berasal dari Hadits dan [...]

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 05

Serat Centhini Jilid-5 berisi 86 pupuh dari pupuh 321 (mulai tembang 40) s/d 356, perjalanan pulang Mas Cebolang dari Wirasaba ke Sokayasa, Banyumas, perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari, Rangcangkapti meninggalkan Sokayasa menuju Wanataka dan perjalanan Jayengresmi meninggalkan Gunung Karang, Pandeglang, Banten untuk mencari adik-adiknya sampai ke Wanamarta diselatan Gunung Giri, Jawa Timur. Rute perjalanan pulang Mas [...]

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 06

Serat Centhini Jilid-6 berisi 15 pupuh dari pupuh 357 s/d 372, berlainan dengan jilid-jilid sebelumnya pada jilid ini bukan berisi cerita perjalanan tapi lebih fokus pada cerita pernikahan antara Jayengresmi yang sudah berganti nama Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras anak dari Ki Bayi Panurta dari Wanamarta, Mojokerta. Pada jilid ini untuk pertama kali disebut nama [...]

Ringkasan Serat Centini Jilid-07

Serat Centhini Jilid-7 berisi 31 pupuh dari pupuh 373 s/d 403, berisi lanjutan prosesi pernikahan antara Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras. Kemudian Seh Amongraga meninggalkan Wanamarta untuk melanjutkan perjalanan “lelanabrata” sambil mencari kedua adiknya Jayengsari dan Niken Rancangkapti. Lanjutan prosesi pernikahan: “Ngunduh mantu” dirumah Jayengraga kakak dari Niken Tambangraras, di rumah Ki Kulawirya adik Ki [...]

Ringkasan Serat Centhini Jilid-08

Serat Centhini Jilid-8 berisi 103 pupuh dari pupuh 404 s/d 506, isinya lanjutan perjalanan Seh Amongraga dan perjalanan kakak-kakak serta paman Niken Tambangraras yaitu Jayengwesthi, Jayengraga, Kalawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga. Rute perjalanan Seh Amongraga: Di gua Sraboja 4 hari; Gunung Sakethi, Bungkak, Bau, Lerek, Kunci, Patak, Tekong; gua Kalak ketemu Ki Lokasraya [...]

Ringkasan Serat Centhini Jilid-09

Serat Centhini Jilid-9 berisi 93 pupuh dari pupuh 507 s/d 599, isinya lanjutan perjalanan Jayengwesthi (Jayengresmi), Jayengraga, Kulawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga karena merasa kasihan melihat keadaan Niken Tambangraras. Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: Masih di desa Pulung, tayuban dirumah Randha Sembada yang hyperseks, diceritakan bisa melayani siang tiga laki-laki dan malamnya [...]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.