Centhini: Tembang Perjalanan Mencari Diri Dan Cinta Sejati

Centhini: Empat Puluh Malam dan Satunya HujanCenthini begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjungannya sehingga akhirnya dia memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari Suluk, pulang ke zatnya yang sejati, ilahi.

Adalah seorang perempuan bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menguak satu lembar sastra Jawa yang tersembunyi dan hampir terlupakan ke dalam kancah dunia sastra Indonesia yang sedang sumringah dengan terbitnya berbagai jenis buku dan tulisan.

Continue reading

Serat Centhini, Karya Sastra Besar di Dunia

centhini elizabethSerat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 – 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa.

Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah saya tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,” kata Elizabeth D. Inandiak di Yogyakarta (22/07).

Continue reading

Serat Centhini: Kekayaan Nusantara, Pelajaran dari Mancanegara

“Allah menutup tangan atau membukanya bagi yang Ia kehendaki. Takdir tidak dapat ditebak. Terkadang di awalnya ulung dan di akhirnya hina, terkadang semula kasar kemudian meningkat berjiwa mulia.”

Serat Centhini adalah karya sastra besar dari khazanah kesusastraan Jawa. Kitab ini merupakan karya kolektif, gubahan bersama di bawah pimpinan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, Putra Mahkota dari Sunan Pakubuwana IV yang kemudian naik tahta bergelar Sunan Pakubuwana V, dengan para pujangga Keraton Surakarta: Raden Ngabei Ranggasutrasna, Raden Ngabei Yasadipura II, dan Raden Ngabei Sastradipura, dibantu oleh beberapa orang lain: Kanjeng Pangulu Tapsiranom, Pangeran Jungut Mandurareja, Kiai Kasan Besari, dan Kiai Muhamad Minhad. Sebenarnya, oleh penciptanya karya ini diberi judul Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga.

Continue reading

Centhini: Kekasih yang Tersembunyi – Tempo

Centhini - Kekasih yang Tersembunyi”…Kehidupan saya dan kehidupan penyair Jawa sejak berabad-abad, semua menyatu. Segala yang pernah saya alami di Jawa dan di tempat lain di Bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib, dan raksasa itu, yang kelihatannya begitu cerai-berai, namun intinya begitu sempurna. Saya seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah wafat, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia….”

Pengakuan Elizabeth D. Inandiak, warga Prancis, pengakuan orang yang terpesona pada Serat Centhini . Ia menyadurnya ke dalam bahasa Prancis. Setelah terbit edisi Prancisnya, kini tafsirnya itu muncul dalam edisi bahasa Indonesia. Iqra kali ini membahas seluk-beluk bagaimana Elizabeth menenggelamkan diri ke dalam Centhini, sebuah karya sastra Jawa di era lampau yang sarat perbincangan religius dan erotisme, sesuatu yang dianggap suci sekaligus kotor itu.

Continue reading

Serat Centhini Versi Indonesia Diterbitkan

elizabeth-d-inandiak-3YOGYAKARTA, KOMPAS – Manuskrip tertua dalam bahasa Jawa, yang dikenal dengan nama Serat Centhini , akhirnya diterbitkan secara lengkap ke-12 jilidnya dalam bahasa Indonesia. Sebelumnya, serat ini hanya diterbitkan dalam cuplikan-cuplikan per jilid saja.

Terbitan baru yang diterjemahkan oleh penyair dan penulis Perancis Elizabeth D Inandiak ini disadur dari Serat Centhini versi bahasa Perancis dan diberi judul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi , diterbitkan oleh penerbit Babad Alas.

Continue reading

Mereka yang Membaca Centhini

elizabeth-d-inandiak-2Prakarsa Rakyat, Bandung – Seorang perempuan bule mendongeng dengan logat yang terdengar asing. Ia bercerita dari atas panggung yang dipenuhi oleh balon-balon berwarna bening dari kondom yang bergelantungan. Di sampingnya ikut duduk lelaki tambun yang sesekali menimpali bercerita.

Perempuan itu sedang berkisah tentang seseorang bernama Cebolang , yang menyamar jadi ledek, sedang menyodomi tumenggung yang kepincut. Perempuan itu bercerita, sang tumenggung menjerit-jerit minta ampun ketika melakukan sanggama dengan sejenisnya. Panggung riuh, meledak oleh ledekan para penabuh gamelan.

Continue reading

Centhini, Si Cantik yang Kontroversial

elizabeth-d-inandiakBagi sejumlah ahli Jawa, Serat Centhini terlalu suci untuk diterjemahkan, sedangkan bagi pakar lainnya, Serat Centhini terlalu kotor. Demikian tertulis dalam bab pertama yang berjudul Pengakuan Centhini dari buku karya penulis asal Perancis Elizabeth D Inandiak, Centhini Kekasih yang Tersembunyi .

Dua hal yang tampaknya saling bertentangan itu menghasilkan satu kenyataan yang sama. Selama dua abad, Centhini menjadi serat tak terbaca. “Demikianlah, rupanya kerohanian yang terlalu tinggi dan syahwat yang terlalu bejat telah menghalangi penerjemahan suluk yang patut dihormati ini ,” tulis Inandiak dalam bab yang sama.

Continue reading

Budaya Jawa di Mata Seorang Elizabeth

elizabeth-d-inandiak-2KOLABORASI penulis asal Prancis, Elizabeth D. Inandiak, dengan penari Didi Nini Thowok menarik untuk diapresiasi. Bertempat di Aula CCF de Bandung, Jln. Purnawarman No. 32 Bandung, Jumat (7/10) mereka menggelar pertunjukan “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” yang diangkat dari “Serat Centini ” sebuah karya sastra Jawa klasik, yang ditulis pada 26 Muharam 1230 tahun Hijriah, atau 1742 tahun Jawa, atau tahun 1809 Masehi pada wuku Marakeh di bawah naungan Dewa Hyang Surenggana.

PENARI Didi Nini Thowok memainkan salah satu tokoh dari berbagai tokoh dalam Serat Centini di Pusat Kebudayaan Prancis CCF Bandung, Jumat (8/10/2006). *M. GELORA SAPTA/”PR”

Continue reading

Centhini: Nafsu Terakhir

Centhini - Nafsu TerakhirSetan dilaknat Tuhan bukan karena jatuh dalam belenggu hasrat dunia dan syahwat seksual, tetapi karena ia telah terjebak pada nafsu keakuannya: merasa lebih hebat dari Adam.

Continue reading

Centhini: Ia yang Memikul Raganya

Centhini - Ia yang Memikul RaganyaJilid ketiga Buku Centhini karya ini Elizabeth D. Inandiak mengisahkan tentang pengembaraan Amongraga setelah meninggalkan istrinya dengan sedih hati. Dalam pengembaraan itu, ia berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Dia mendirikan padepokan di pantai selatan Mataram. Santrinya mencapai empat ribu orang lebih, pria dan wanita. Namun mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa permainan sulap dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.