Ensiklopedi Serat Centhini

Ensiklopedi Serat CenthiniSerat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.

Continue reading

Centhini: Tembang Perjalanan Mencari Diri Dan Cinta Sejati

Centhini: Empat Puluh Malam dan Satunya HujanCenthini begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjungannya sehingga akhirnya dia memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari Suluk, pulang ke zatnya yang sejati, ilahi.

Adalah seorang perempuan bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menguak satu lembar sastra Jawa yang tersembunyi dan hampir terlupakan ke dalam kancah dunia sastra Indonesia yang sedang sumringah dengan terbitnya berbagai jenis buku dan tulisan.

Continue reading

Serat Centhini: Suluk Kesaksian Gadis

Les chants de l'île à dormir debout , Le livre de CenthiniIslam dan budaya Jawa hidup berdampingan. Serat Paku Buwono V ini buktinya.

Adapun manusia berasal dari cahaya gaib. Apabila meninggal atau zaman kiamat, manusia akan kembali pada zat yang gaib. Yakni pulang ke tempat asalnya, Manunggaling Kawula-Gusti.

SULUK Saloka Jiwa buah pena penyair sufi, Ronggowarsito, ini aslinya berbahasa Jawa. Tak beda dengan suluk Serat Centhini , yang meramu khazanah kultur Jawa dan ajaran Islam dengan merujuk pelbagai Kitab Kuning. Suluk adalah ajaran mistik yang diungkapkan berupa tembang, sebuah bentuk puisi Jawa. Tak syak, orang pun bertanya: bagaimanakah hubungan budaya Jawa dengan Islam?

Continue reading

Novel Centhini Rasa Sastrawi Tradisi Jawa

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang Pengantin 2JOGJA: Karya sastra Jawa legendaris awal abad ke-19, yakni Suluk Tambangraras atau lebih dikenal sebagai Serat Centhini , telah dibuat novelnya, berjudul Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin, oleh novelis Sunardian Wirodono.

Dalam novel yang diterbitkan Diva Press, akhir Mei 2009 itu, Sunardian yang juga penulis novel Syair Panjang Aceh itu melihat, sebenarnya Serat Centhini merupakan wujud ensiklopedi mengenai dunia masyarakat Jawa. “Seperti tercermin dalam bait-bait awalnya, serat ini ditulis dengan ambisi baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa yang meliputi berbagai hal seperti persoalan agama, kebatinan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, primbon, pertanian, kuliner, adat istiadat, dan juga seks,” kata Sunardian, saat launching novel setebal 500 halaman itu di Warung Apresiasi (Wapres), Jl. Laksda Adisutjipto no 23 Jogja, kemarin.

Continue reading

Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang Pengantin 2Sebuah Ulasan Ringkas Novel Cinthini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono oleh Dhian Hari M.D. Atmaja.

Continue reading

Membaca Serat Centhini Tanpa Kerut Kening

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang PengantinYogyakarta – Tak sedikit yang berpendapat bahwa Serat Centhini adalah Kamasutra-nya Indonesia. Mahakarya sastra Jawa yang ditulis tiga pujangga Keraton Solo dan bahkan Paku Buwono V juga ikut menuliskannya–memang membicarakan soal seks.

Stigma ini sangat melekat hingga sekarang, khususnya pada generasi muda. Padahal, Serat Centhini ini selain membicarakan soal seks juga mengupas tentang hewan, tanaman, pengetahuan agama, adat istiadat, dan lain sebagainya.

Edi Mulyono, Direktur Diva Press, mencoba untuk menghilangkan tiga stigma itu, yakni dengan membuat penafsiran Serat Centhini yang tidak vulgar sehingga bisa memperbaiki pencitraan. “Harapan kami dengan dijadikan novel, anak-anak muda ABG ini bisa menikmati Serat Centhini tanpa mengerutkan kening,” ujarnya.

Continue reading

Keberadaban Kebudayaan Jawa

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang Pengantin 3PENULISAN prosa berbasis sejarah yang sudah populer ternyata mempunyai jaminan segmentasi pasar tersendiri. Secara sadar segmentasi semacam inilah yang menjadi bidikan sejumlah penerbit, termasuk Diva Press Yogyakarta. Komitmen besar Diva Press terhadap penerbitan buku-buku prosa berbasis sejarah yang sudah populer tentu saja cukup menyumbang terhadap pengayaan perspektif penulisan aspek sejarah itu sendiri. Hal ini pun menjadi tantangan sekaligus peluang memikat bagi sejumlah penulis prosa untuk memanfaatkan momentum yang baik itu.

Penerbitan novel Centhini karya Sunardian Wirodono ini tentu saja adalah salah satu bagian dari upaya menelaah Serat Centhini yang sudah melegenda dalam perspektif liris estetik. Kita tahu, Serat Centhini sudah cukup populer dalam ranah kajian bidang humaniora, banyak penelitian dengan berbagai sudut pandang mencoba mengkaji secara kritis perihal sumbangsih karya itu bagi kemaslahatan umat.

Continue reading

Centhini Sebuah Diary Novel

Sunardian WirodonoSRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Serat Centhini , mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.

Continue reading

Centhini – 40 Malam Mengintip Sang Pengantin

Centhini - 40 Malam Mengintip Sang Pengantin 3Sebuah novel berbahasa Indonesia, digubah oleh Sunardian Wirodono, berdasar karya klasik sastra Jawa, “Serat Centhini ” karya Susuhunan Pakubuwana IV Kraton Surakarta Hadiningrat (bertahta pada tahun 1820-1823), yang ditulis pertama kali pada tahun 1815.

Karya gubahan setebal 510 halaman ini, diterbitkan pertama kali oleh Diva Press, Yogyakarta, pada Mei 2009. Merupakan upaya pertama kali untuk secara lengkap menggubah karya serat tersebut dalam bentuk novel dan dengan bahasa Indonesia.

Continue reading

Serat Centhini: Kekayaan Nusantara, Pelajaran dari Mancanegara

“Allah menutup tangan atau membukanya bagi yang Ia kehendaki. Takdir tidak dapat ditebak. Terkadang di awalnya ulung dan di akhirnya hina, terkadang semula kasar kemudian meningkat berjiwa mulia.”

Serat Centhini adalah karya sastra besar dari khazanah kesusastraan Jawa. Kitab ini merupakan karya kolektif, gubahan bersama di bawah pimpinan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, Putra Mahkota dari Sunan Pakubuwana IV yang kemudian naik tahta bergelar Sunan Pakubuwana V, dengan para pujangga Keraton Surakarta: Raden Ngabei Ranggasutrasna, Raden Ngabei Yasadipura II, dan Raden Ngabei Sastradipura, dibantu oleh beberapa orang lain: Kanjeng Pangulu Tapsiranom, Pangeran Jungut Mandurareja, Kiai Kasan Besari, dan Kiai Muhamad Minhad. Sebenarnya, oleh penciptanya karya ini diberi judul Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.