Serat Centhini Versi Indonesia Diterbitkan

elizabeth-d-inandiak-3YOGYAKARTA, KOMPAS – Manuskrip tertua dalam bahasa Jawa, yang dikenal dengan nama Serat Centhini , akhirnya diterbitkan secara lengkap ke-12 jilidnya dalam bahasa Indonesia. Sebelumnya, serat ini hanya diterbitkan dalam cuplikan-cuplikan per jilid saja.

Terbitan baru yang diterjemahkan oleh penyair dan penulis Perancis Elizabeth D Inandiak ini disadur dari Serat Centhini versi bahasa Perancis dan diberi judul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi , diterbitkan oleh penerbit Babad Alas.

Centhini - Kekasih yang Tersembunyi - PrancisSaya harus bekerja keras untuk membuat kisah setebal lebih dari 4.200 halaman ini menjadi 400 halaman saja. Saya menerjemahkannya dari bahasa Perancis dan berusaha tidak kehilangan hal-hal yang ada dalam bahasa Jawa-nya, ujar Elizabeth dalam konferensi pers pergelaran Hari Huru-hara Centhini, acara untuk mengupas habis terbitan buku baru Centhini yang diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Selasa (22/7).

Serat Centhini mulai ditulis bulan Januari 1814 dan selesai pada 1823. Penulisannya diprakarsai oleh Adipati Anom Amengkunegara III, dengan tiga anggotanya, Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura, dan Kiai Ngabei Sastradipura. Versi bahasa Indonesia-nya baru ada sekitar tahun 2002, dalam bentuk cuplikan, seperti Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Minggatnya Cebolang, Ia yang Memikul Raganya, dan Nafsu Terakhir.

Isinya terentang mulai dari ajaran agama, resep masakan, hubungan badan suami-istri, arsitektur, juga sufisme. Sementara itu, Centhini si pencerita dalam serat ini adalah abdi dari tokoh perempuan bernama Tambangraras, yang bersuamikan Amongraga. Centhini memuat informasi tentang banyak hal yang memang ditembangkan, itu kekuatannya, kata Elizabeth.

Menurut dosen Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana Mahatmanto, serat ini dapat menjadi referensi terkait perkembangan arsitektur rumah Jawa. Untuk itu, Mahatmanto akan memvisualisasikan teks Centhini ke dalam arsitektur rumah yang akan dipaparkan dalam slideshows. Saya menginginkan bagaimana teks yang imajinatif itu bisa disampaikan dalam bentuk gambar dan foto rumah Jawa, ucapnya.

Bagi seniman tari Didik Nini Thowok, Serat Centhini memuat kekayaan pengetahuan yang bisa diekspresikan dengan seni apa pun. Untuk itu, rangkaian kegiatan seni teater dan ketoprak yang mengambil cuplikan dari serat ini akan digelar 25 Juli mendatang di LIP Yogyakarta, mulai pukul 14.00. (SIN)

Sumber: Kompas Cetak, Rabu, 23 Juli 2008.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.