Review Serat Centhini – Jilid 12

Serat Centhini - Tambangraras - Amongraga Serat Centhini Jilid-12 adalah jilid terakhir dari keseluruhan Serat Centhini yang berjumlah 12 jilid. Didalamnya ada tambahan, yaitu: Serat Centhini Jalalen – cerita tentang Ki Jatiswara, meninggalnya Ki Bayi Panurta dan istri dan reinkarnasi Seh Amongraga beserta istri.

Ada beberapa hal-hal kontroversi dalam Serat Centhini jilid 12, kalau dilihat dari sisi Budaya Jawa yang berlaku umum pada saat ini, yaitu:

1. Perihal poligami: Agama Islam secara syariat mengijinkan seseorang punya istri sampai dengan 4 (empat) dengan berbagai syarat. Budaya Jawa pada umumnya mengajarkan monogami bahwa seseorang sebaiknya beristri satu sampai kaken-ninen atau selamanya.

Pada Serat Centhini jilid-12, tokoh utama yang telah mencapai kesempurnaan pendalaman agama Islam melalui jalan tasauf, semuanya memilih hanya beristri satu (Ki Bayi Panurta, Jayengresmi, Jayengraga (sebelum mencapai tingkatan aulia agama, sering mengumbar hawa nafsu sahwat), Seh Amongraga, Seh Agungrimang (waktu masih bernama Mas Cebolang sebelum menikah dengan Niken Rancangkapti juga berhubungan dengan banyak wanita).

Apakah sikap para ulama di Serat Centhini terpengaruh Budaya Jawa? Atau pendalaman agama Islam itu sendiri pada akhirnya menyimpulkan bahwa sebaiknya seseorang beristri satu saja. Pada umumnya seseorang tidak melihat syarat-syarat untuk bisa menikah lebih dari satu wanita, mungkin hanya Nabi Muhammad SAW yang mampu untuk memenuhi syarat-syarat tersebut. Bisakah kita sebagai manusia biasa punya kwalitas moral menyamai atau lebih baik dari Nabi Muhammad SAW?

Sikap ini suatu kontroversi dengan sikap pada umumnya para ulama Islam saat ini. Saat ini, seseorang lebih fokus pada bolehnya, tapi tidak melihat bahkan cenderung menghilangkan syarat-syaratnya. Oleh karena itu poligami begitu mudah dilakukan saat ini oleh umat muslim di Indonesia.

Tokoh-tokoh Islam yang diceritakan dalam Serat Centhini lebih arif menyikapi hal ini dan lebih memilih Budaya Jawa untuk diikuti. Karena beristri lebih dari satu bukan wajib hukumnya (cenderung ke makruh) dan ada syarat-syarat yang berat untuk diikuti terutama syarat untuk bersikap adil.

2. Perihal Reinkarnasi: Reinkarnasi tidak dikenal dalam agama Islam. Reinkarnasi sangat luas dikenal dalam masyarakat di Jawa walaupun mayoritas orang Jawa beragama Islam. Kemungkinan besar hal ini adalah pengaruh budaya Jawa kuno, agama Hindu dan Budha. Kalau dikalangan Islam Jawa mengenal reinkarnasi, ini adalah hasil sinkretisasi. Akhir cerita Serat Centini pada jilid 12, Seh Amongraga dan istri melakukan reinkarnasi menjadi raja di Mataram – Sunan Amangkurat I adalah hasil sinkretisasi agama Islam.

3. Mengetahui kematian sebelum terjadi: Budaya Jawa mengenal ilmu mengetahui kematian sebelum terjadi (sangat luas dipublikasikan dalam primbon Jawa tentang tanda-tanda kematian baik yang kita bisa lihat dari orang lain maupun tanda-tanda untuk diri sendiri).

Dalam Serat Centhini jilid-12 diceritakan bahwa Seh Amongraga dan istrinya sudah mengetahui bahwa ajal kedua orang tuanya sudah dekat dan bisa datang lebih dahulu untuk ikut mengawal kematian kedua orang tuanya. Dalam agama Islam tidak dikenal ajaran mengetahui kematian terlebih dahulu, kematian adalah termasuk sesuatu hal yang gaib yang hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui.

Cerita/Legenda:

Cerita machluk halus di hutan Jembul. Cerita tentang machluk halus sangat popular sampai saat ini di Jawa/Indonesia.

Cerita tentang Ki Jatiswara. Disinggungnya negara Campa adalah suatu indikasi bahwa umat Islam di Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari hubungan/perkembangan dengan umat Islam secara regional bahkan secara global.

Serat Wiwaha (Arjuna Wiwaha). Cerita wayang tentang Arjuna yang bertapa menjadi Begawan Mintaraga. Sering dihubungkan dengan pengalaman sprirituil dalam mencapai kesejatian diri dalam ilmu tasauf.

Adat Istiadat:

Candrasangkala beberapa Candi di Jawa: Informasi tentang tahun berdirinya candi-candi di Jawa.

Keratabasa: makna huruf-huruf Jawa dalam rangkaian nama seseorang.

Dasanama: sepuluh sebutan nama (kata) yang punya arti sama (sinonim) pengetahuan bahasa yang sangat berguna untuk menggubah tembang.

Pengetahuan Spirituil/Agama:

Hidup menemukan mati, mati menemukan hidup: (Gambuh) Gesang inkang amurba ing pati, pati wus kalimput ing agesang, gesang tan na patine, mulyaning pati uwus, murba amisesa ing urip, urip wus kalimputan, ing pati sawegung, agesang sajroning pejah, pan wus murba misesa pati lan urip, langgeng kaananira.

Note: salah satu pencapaian ilmu kasampurnaan (tasauf) adalah kondisi di alam kasampurnaan yang kekal atau abadi – penguasaan perihal hidup dan mati.

Isbat dan Sifat: Isbat ananing Hyang Widdhi, marma sakaliring sipat – Isbat berarti penentuan keberadaan sesuatu, dalam hal ini tentang keberadaan Allah SWT melalui sifat-sifatnya.

Kodrat dan Iradat (Wiradat): Iradat (Wiradat) adalah suatu usaha untuk merubah kodrat. Karena kodrat itu ada dua macam, kodrat mualak (muallaq) dan kodrat mubaram (mubrom), kodrat mualak masih tergantung hal-hal lain untuk dilaksanakan – ini yang bisa diubah dengan usaha (ichtiyar) sedangkan kodrat mubaram sudah mutlak tidak bisa dirubah.

Hakekat sembah dan sukma:

Sembah adalah pujian kepada Allah SWT. Kuasa Allah SWT yang memberikan baik atau buruk, menghukum atau mengasihi, membagi surga atau neraka, dunia atau akhirat, abadi tidak berubah, tidak dikurangi tidak ditambah.

(Dhandhanggula) Sukma rimbag wutuh den-tingali, saosike ya Sukma belaka, wujuding Sukma tan pae, wus tan kengang binastu, woring jati kula lan Gusti, Maha Gusti ta kula, sih kajatenipun, lamun tan kadyeka, kula misih kula, Gusti misih Gusti, tan kengang wor-winoran.

Artinya: Sukma sepertinya utuh kalau dilihat, segala gerak adalah Sukma itu sendiri, wujud Sukma sudah tidak bisa dibedakan melebur menyatu, menyatunya kesejatian kawulo (hamba) dan Gusti, Maha Gusti dengan kawulo, kesejatian kasih, tetapi walaupun sepertinya tidak bisa dibedakan, kawulo masih tetap kawulo, Gusti tetap Gusti, tidak bisa dicampur adukkan (disamakan).

Pengarang : KGPA Anom Amengkunegara III.
Sumber: id.shvoong.com.

Pranala:

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: