“Untuk semua remaja yang tersesat dalam keramaian batil dan batin.” Sepotong kalimat pembuka dalam buku Minggatnya Cebolang ini mampu memberi petunjuk tentang isi buku tersebut.
Minggatnya Cebolang berasal dari Serat Centhini, yang terdiri dari 12 jilid, dengan 4200 halaman, 722 tembang, dan lebih dari dua ratus ribu bait ini. Kitab Jawa yang juga dikenal dengan nama Suluk Tembangraras merupakan tembang kebebasan dari Pangeran Anom Hamengkunegara III. Kitab ini pertama kali disusun pada tahun 1814.
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Elizabeth D. Inandiak, buku Minggatnya Cebolang merupakan jilid ke 2 dari 4 jilid yang akan diterbitkan. Dengan disertai ilustrasi-ilusrasi dari lukisan kaca Nugroho, buku ini mengisahkan tentang perjalanan seorang pemuda bernama Cebolang dalam pencarian jatidiri dan ilmu kebahagiaan. Cebolang yang digambarkan sebagai pemuda “bertubuh luwes, licin layaknaya penari Ramayana dan berparas indah bagaikan gadis yang sedang mekar” sebenarnya adalah seorang anak dari Kiai Syekh Akhadiat yang telah banyak melakukan kehinaan.
Setelah melakukan tindakan-tindakan yang memalukan, pria tampan ini merasa putus asa dan tak akan diampuni lagi dosanya. Karenanya ia memutuskan untuk minggat dari desanya dan berpetualang mencari jati diri. Segala macam keberantakan hidup dan moral ia rasakan. Nafsu birahinya pun ia lampiaskan ke berbagai macam orang, mulai dari janda, ronggeng, warok reog, hingga adipati. Tak hanya perempuan, Cebolang juga melampiaskan nafsunya kepada pria. Selama pengembaraannya dalam mencari jatidiri, ia ditemani oleh keempat sahabatnya, Nurwitri, Saloka, Kartipala, dan Palakarti. Pada akhirnya Cebolang pun tersadar dan berhasil mendapatkan ilmu kebahagiaan seperti yang dicarinya.
Memang, dunia seks dalam buku Minggatnya Cebolang diceritakan dengan dengan bebas dan terbuka, juga puitis. Namun walau terkesan terlalu vulgar, buku ini merupakan penuturan jujur dari Serat Centhini. Pangeran Anom Hamengkunegara pun menuliskan catatan kecil di prakata, “Pendengar yang munafik, sesamaku, saudaraku!” untuk menyindir mereka yang berpura-pura pada kenyataan saat itu.
Hendaknya buku ini jangan sekedar dinilai dari segi kevulgarannya. Minggatnya Cebolang juga memberikan pelajaran tentang pencarian Ilahi. Terlebih lagi, merubah gaya bahasa yang vulgar yang terdapat dalam Serat Centhini ini akan mengurangi nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah buku terjemahan.
Buku dengan kemasan mungil dan berisi sekitar 35 tembang ini memang menghadirkan pro dan kontra tersendiri. Namun Pengembaraan Cebolang memberikan kesadaran bahwa kebahagiaan kadang kita temukan setelah mengerti apa kehinaan itu. “Harus kita kenali kebatilan di ambang jalan kebatinan,” begitu penggalan kalimat yang diucapkan oleh Pangeran Anom Hamengkunegara III pada ayahnya, Baginda Pakubuwono IV.
Judul: Centhini: Minggatnya Cebolang
Penulis: Elizabeth D.Inandiak
Penerjemah: Laddy Lesmana dan Elizabeth D.Inandiak
Penerbit: Galang Press
Tahun: 2005, April, cetakan I
Tebal: vii + 207 hal
Harga: Rp 25.000,-
Sumber: trulyjogja.com.
Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Buku Serat Centhini, Elizabeth Inandiak, Resensi Serat Centhini